Bagikan
Band ini telah terbentuk sebelumnya dengan nama Xero di Agoura Hills, California pada 1996, penggagasnya adalah Shinoda, gitaris Brad Delson, bassist Dave Farrell, drummer Rob Bourdon dan turntablist Joe Hahn. Bennington yang sebelumnya bergabung dengan band rock alternatif asal Phoenix, Grey Daze, akhirnya menggantikan vokalis pertama Mark Wakefield, formasi Hybrid Theory dari Linkin Park pun terbentuk.
Grup musik asal Amerika Serikat, Linkin Park, berusaha untuk membuktikan hal tersebut melalui album studio ketujuh mereka, “One More Light”.
Sejak Linkin Park merilis singel “Heavy” pada Maret 2017 sebagai promosi album One More Light, penggemar Linkin Park mulai menebak-nebak konsep album baru tersebut. Sebagian besar mereka meyakini bahwa Linkin Park akan tampil lebih kalem.
Saat One More Light resmi dirilis pada 19 Mei 2017, pertanyaan tersebut terjawab sudah, Linkin Park menghadirkan album dengan konsep yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh para penggemarnya.
Pada tahun 2000, melalui album Hybrid Theory, Chester Bennington (vokal), Mike Shinoda (vokal, rap, kibor), Brad Delson (gitar), Dave “Phoenix” Farrel (bas), Joseph Hahn (programmer, DJ), dan Rob Bourbon (drum) telah membuka telinga penikmat musik dengan menyajikan musik ingar-bingar dengan sentuhan berbeda.
Linkin Park bermain kencang dan gahar, tetapi menyajikannya dengan variasi suara yang dianggap tidak umum untuk musik metal. Mereka memasukkan unsur rap, bunyi-bunyian dari program komputer, dan atraksi permainan dari disc jockey (DJ). Karena itulah mereka mempunyai banyak atribut, sebagai grup musik nu-metal, rap metal, rock alternatif, atau rock elektronik.
Apa pun titelnya, Linkin Park menjelma menjadi grup yang digemari dan menjadi tonggak musik cadas yang segar dan energik. Mereka mempunyai permainan yang kolektif dan rapi serta didukung dengan atraksi vokal khas Chester Bennington dan rap menawan dari Mike Shinoda.
Hybrid Theory muncul di puncak ledakan musik nu-metal dan dengan cepat mendominasi tangga lagu Billboard, sebagian berkat peran besar MTV yang rutin menayangkan video-video musiknya di sana. Single “One Step Closer,” “Crawling” dan “In the End” semuanya bercokol pada posisi teratas di berbagai tangga lagu rock arus utama, dan “In the End” bahkan sukses pula menyeberang ke tangga album pop, dan mencapai Nomor Dua dan meraih sertifikasi piringan emas. “Crawling” kemudian berhasil meraih Grammy pertamanya bagi Linkin Park untuk kategori Best Hard Rock Performance.
Album kelanjutan mereka yang rilis pada 2003, Meteora, juga melesat mencapai Nomor Satu dengan cepat, sebagian berkat keberhasilan single berstatus platinum, “Numb,” yang menampilkan Bennington berteriak lantang tentang lumpuhnya perasaannya ke seluruh dunia. Kesuksesan mereka menghasilkan kolaborasi pada 2004 dengan Jay-Z, Collision Course– sebuah album nomor satu lainnya lagi, rilisan berkategori platinum ini memuat penggabungan lagu “Papercut” milik mereka dengan “Big Pimpin” dan “One Step Closer” bercampur dengan “99 Problems” dari Jay-Z. Mash-up dari Linkin Park “Numb” dengan “Encore” milik Jay-Z kemudian sukses menyabet Grammy untuk Best Rap / Sung Performance.
Album rilisan 2007 Linkin Park, Minutes to Midnight, membuat mereka bergerak menjauh dari agresi nu-metal mereka yang terdahulu. Produser pendukung, Rick Rubin, membantu mereka lebih fokus pada rock klasik dengan nuansa U2. Risiko bisnis yang mereka hadapi dengan hits seperti “What I’ve Done,” “Bleed It Out” dan “Shadow of the Day,” semuanya sukses diganjar platinum dan multi-platinum.
Linkin Park terus memadukan gaya musik rock atmosferik dengan elektronik pada album A Thousand Suns yang rilis pada 2010 (diproduksi bersama Rick Rubin) dan Living Things pada 2012. Meskipun ada perubahan karakter sound, namun mereka tetap mampu melakukan hal yang tidak mungkin dengan menembus posisi Nomor Satu di tangga lagu rock mainstream dan rock alternatif dengan single rilisan 2012 “Burn It Down”, di mana Bennington bernyanyi dengan segenap tenaga sekaligus jernih.
Sementara itu, album The Hunting Party dari Linkin Park rilisan 2014 membuat mereka membelok ke arah rock yang lebih keras dan kurang sukses secara komersial. Pada album terbaru mereka, One More Light yang rilis tahun ini, mereka mengeksplorasi pop sepenuh hati. Menghadapi reaksi kritis dari beberapa penggemar lama yang menganggap Linkin Park semakin melunak sound-nya sejak Hybrid Theory, Chester sempat mengatakan kepada seorang pewawancara, “Ini adalah rekaman yang bagus, kami menyukainya. Ayo, move the fuck on.”
Chester Bennington adalah sedikit dari vokalis bersuara tenor di musik heavy metal. Karakter vokalnya yang unik, tinggi, dan jernih membuat Chester menjadi ciri khas Linkin Park. Mungkin saja, tidak ada vokalis lain yang berteriak sebanyak Chester. Lantunan lantang Chester adalah benang merah perjalanan album Linkin Park.
Di album One More Light, Chester Bennington tampil berbeda. Dia menurunkan agresivitasnya dan coba mengeksplorasi karakter suaranya di zona yang nyaman. Tercatat, dia hanya sebentar saja menaikkan suaranya di lagu “Sharp Edges”, “Nobody Save Me”, dan “Good Goodbye”.
Produser album ini, Mike Shinoda dan Brad Delson, membuat konsep album dengan merespons jenis musik yang beragam tetapi masih masuk ke gaya bermusik Linkin Park. Hasilnya, sepuluh lagu di album One More Light tampil ringan dan nge-pop. Keyakinan mereka kuat karena karakter suara Chester bisa nyeteldi berbagai jenis lagu.
Sebagian besar lagu di album One More Light berirama pelan, sesuatu yang tak pernah ada di album-album Linkin Park. Pendengar yang terbiasa menyimak Linkin Park seolah seperti sedang mengendarai mobil Bugatti Veyron, kini dipaksa untuk melaju dengan family wagon. Ini benar-benar album dengan kecepatan rendah.
Meski tampil baru, ciri khas Linkin Park masih sangat kental di album ini. Bunyi-bunyian dari program komputer masih menghiasi lagu, solo permainan DJ Hahn yang keren, seperti di lagu di “Invicible” dan rap-rap dari Mike Shinoda mendalamkan lagu.
Di “Sorry for Now”, Chester Bennington dan Mike Shinoda bertukar peran. Mike menjadi penyanyi utama, sementara Chester nge-rap. Linkin Park juga menyelipkan gaya musik dansa elektronik (EDM) termutakhir seperti model musik The Chainsmokers dan Avicii.
Lagu “Battle Symphony” menjadi penanda album ini. Lagu ini adalah jembatan perjalanan musik Linkin Park. Semua unsur lama dan baru dari Linkin Park membaur di lagu ini. Sebuah musik yang paripurna.
Di sisi lain, kolaborasi dengan penyanyi dan pencipta lagu berusia 22 tahun, Kiiara di “Heavy” adalah lagu pop terbaik yang pernah dibuat Linkin Park dan baru menembus paruh tengah tangga lagu pop pada saat kematian Chester, meskipun album tersebut telah memulai debutnya di Nomor Satu.. Perubahan konsep bermusik ini menjadi hal yang penting untuk Linkin Park.
Grup musik metal Korn pernah melakukan dengan kolaborasi musik metal dan dubstep di album The Path of Totality (2011). Saat itu, penggemar Korn mencibir habis album tersebut. Namun, di kemudian hari, album The Path of Totality dianggap sebagai salah satu album terbaik Korn.
Album One More Light membuat penikmat musik mendapatkan sajian segar dari Linkin Park. Album ini akan menjadi perdebatan yang tak berujung. Terlepas dan pro dan kontra, One More Light mendapat respons bagus dan berada di posisi pertama tangga album Billboard Top 200, hanya dua pekan setelah dirilis.
( NET / lorong musik )

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.